Hello. Apa kabar? Aku harap kau baik-baik saja. Sekarang, untuk pertama kalinya, aku akan membahas... err... masalah yang selalu menjadi trending topic di sekolahku: BULLIES.
Kau tahu, sekolahku terdiri dari banyak kelas. Ada 8 kelas untuk kelas 7, 8 kelas untuk kelas 8, dan 8 kelas untuk kelas 9. Totalnya, ada 24 kelas dalam tiga angkatan. Menurut pengamatan teman-temanku yang iseng mengalikan, menambahkan, dan membagi jumlah murid, mereka pernah berkata bahwa kira-kira jumlah murid SMPN 3 Bandung adalah 1000 orang lebih. Dengan satu koperasi dan satu kantin di basement (yea, right), terbayang sudah bagaimana sumpeknya sekolahku.
Tapi bukan itu yang akan aku bahas. Dengan banyaknya murid kelas 7, 8, dan 9 yang berusaha dijejalkan dalam sekolah berlantai tiga, persaingannya pun akan semakin ketat.
Begini. Beberapa minggu yang lalu, ketika aku sedang mengobrol dengan seorang temanku, ia berkata, "Kamu tahu tidak? Ada teman kita yang bilang kalau adik kelas itu sombong, lho,"
"Oya?" tanyaku.
"Ya. Dia bilang dia juga ingin mem-bully adik kelas itu."
Ya ampun!! Aku benar-benar tidak percaya. Aku kira angkatanku adalah angkatan yang damai, aman, tenteram, sentosa, dan sejahtera. Ternyata masih banyak orang-orang yang gila hormat dan suka menyiksa orang lain! Diam-diam, aku mengutuk temanku itu.
Dulu, saat aku masih kelas 7, aku juga tahu rasanya dimarahi dan dibenci kakak kelas. Bukannya aku pernah terlibat konflik dengan mereka, tapi dengan pengalaman forum jurnalistikku saja, rasanya aku sudah akan menyerah kalau aku sampai di-bully. Ditambah lagi dengan masa TK-ku yang memang bermasalah dengan sosialisasi dan sebagainya. Jadi, sekarang aku berpikir, kenapa repot-repot membenci adik kelas kalau dulu kau juga tak suka dibenci? Sungguh mengherankan.
Ada lagi cerita yang tak kalah menyakitkan. Jadi begini. Aku memiliki seorang teman. Temanku itu, dibanding teman-temanku yang lain, kondisi ekonominya bisa dikatakan kurang mampu. Uang jajannya hanya Rp 500,- perhari, dan itu membuatnya diejek teman-temannya. Pernah suatu hari, dia bercerita padaku tentang perlakuan orang-orang kepadanya. Dia sering diejek, dihina, dan ditertawakan. Bahkan ketika aku membantu mengerjakan tugasnya, temanku yang lain menatapku, bergidik, dan menunjukkan ekspresi jijik. Aku tidak percaya, di dunia yang katanya begitu modern ini, masih ada diskriminasi gara-gara status sosial seperti itu.
Sepertinya, itulah alasan utamaku kenapa aku tak mau mem-bully adik kelas. Simple: aku tak mau membuat adik-adik kelas membenciku karena mereka menganggap aku galak. Lagipula, masa-masa kelas 7 adalah masa-masa terindah (karena aku tak punya musuh, tak bermasalah, dan kelasku sangat, sangat kompak), dan aku rasa, pertemananku dengan anak kelas 7 bisa membawaku kembali ke masa-masa indah itu.
Jadi, sekali lagi, apa sih gunanya mem-bully adik kelas? Banyak teman-temanku yang dibilang "belagak" oleh kakak kelas, terkadang hanya karena masalah sepele. Juga, ada seorang temanku yang selalu mengomentari perilaku adik kelas yang lewat di depan dia. Pernah suatu saat, ketika aku sedang berjalan, seorang kakak kelas tiba-tiba menunjukku dari belakang sambil berbisik kepada temannya (entah kenapa, aku merasa santai saja). Di hari yang lain, seorang jurnalis junior yang sedang bekerja denganku untuk membuat mading, tiba-tiba pulang tanpa mengucapkan salam dan memalingkan wajah setiap ditanya.Ya ampun, perlukah semua perlakuan seperti itu? Kapan kegila-gilaan akan hormat bisa berakhir di setiap sekolah, kantor, lembaga, perusahaan, atau bahkan di lingkungan keluarga? Kapan asumsi prematur dari adik kelas tentang perlakuan kakak kelas bisa dihentikan?
Akhirnya, setelah menggerutu dan merenung, aku menemukan sebuah teori: Perlakuan kasar di sekolah, atau bullying, terjadi karena kesalahpahaman. Kakak kelas yang sombong akan merasa bahwa adik kelas selalu bersikap tidak sopan (dengan kalimat "Adik kelas zaman sekarang....."), sementara adik kelas yang pesimis akan menganggap bahwa kakak kelas selalu jahat, sehingga kedua pihak itu takkan bisa rukun. Adik kelas selalu memasang muka masam tiap kali melewati kakak kelas, dan kakak kelas selalu menyindir adik kelas dengan berbagai kata-kata yang bisa membuat orang berat hati.
Aku harap, suatu saat, masalah ini bisa berhenti. Aku harap di masa depan, ketika anakku akhirnya masuk SMP, perlakuan bully seperti ini akan berakhir. Aku berdoa bahwa tidak akan ada lagi diskriminasi antara si kaya dan si miskin, si pintar dan si bodoh, si populer dan si kutu buku. Aku ingin gaya rambut bukanlah hal pertama yang dilihat orang ketika mereka berkenalan denganmu. Satu hal lagi, aku harap semua orang di dunia belajar mengerti satu sama lain.
Amin.
No comments:
Post a Comment